Feeds:
Tulisan
Komentar
// <!– //

 

 

Seorang miliyuner Amerika, Mark Shaffer mendeklarasikan keislamannya di Saudi Arabia pada hari Sabtu 17 Oktober 2009 yang lalu. Saat itu Mark sedang berwisata ke Saudi Arabia untuk mengunjungi beberapa kota terkenal seperti Riyadh, Abha dan Jeddah selama 10 hari.

Mark adalah seorang miliyuner terkenal dan pengacara kawakan di Los Angeles Amerika Serikat khususnya terkait hukum perdata. Kasus besar terakhir yang ditanganinya ialah terkait dengan penyanyi pop terkenal Amerika Michel Jackson sepekan sebelum ia meninggal.

Seorang guide wisata yang menemani Mark selama 10 hari di Saudi, Dhawi Ben Nashir menceritakan : Sejak menginjakkan kakinya pertama kali di Saudi Mark mulai bertanya tentang Islam dan shalat. Sesampai di Saudi, Mark menginap di kota Riyadh selama dua hari. Selama di Riyadh Mark sangat concern pada Islam. Setelah itu kami pindah ke kota Najran, terus ke Abha dan Al-Ula. Di sana terlihat sekali ketertarikannya pada Islam, Khususnya saat kami keluar berwisata ke padang pasir.

Mark kaget saat meilahat tiga pemuda Saudi yang mendampingi kami di Al-Ula, karena mereka shalat di atas bentangan padang pasir yang amat luas. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan.

Setelah dua hari di Al-Ula, kami pergi ke Al-Juf. Sesampai di Al-Juf, Mark minta dicarikan buku-buku tentang Islam. Lalu saya berikan beberapa buku tentang Islam. Semua buku tersebut dibaca habis oleh Mark. Esok paginya, dia minta saya mengajarkannya shalat. Sayapun mengajarkannya shalat dan bagaimana cara berwudhuk. Lalu dia ikut shalat di samping saya.

Setelah shalat, Mark bercerita bahwa dia sekarang sangat tentram jiwanya. Sore Kamisnya, kami meninggalkan Al-Ula menuju kota Jeddah. Selama di perjalanan dia terlihat serius sekali membaca buku-buku tentag Islam. Pagi hari Jumatnya, kami mengunjungi kota tua Jeddah. Sebelum waktu sahalat Jumat masuk, kami kembali ke hotel dan saya minta izin padanya untuk shalat Jumat. Saat itu Mark berkata pada saya : Saya ingin ikut Anda shalat Jumat agar saya menyaksikannya seperti apa shalat Jumat itu. Lalu saya jawab : welcome…

Kamipun pergi ke sebuah masjid yang tidak jauh dari hotel tempat kami menginap di Jeddah. Karena agak terlambat, saya dan sebagian jamaah shalat di luar masjid karena jamaahnya yang mebludak. Terlihat Mark mengamati jamaah apalagi setelah selesai shalat Jumat, mereka salaing bersalam-salaman dengan wajah yang cerah dan gembira. Mark semakin kagung dengan pemandangan tersebut.

Setelah kami pulang ke hotel, tiba-tiba Marka menyampaikan kepada saya keinginannya untuk masuk Islam. Lalu sya katakan padanya : Silahakan Anda mandi terlebih dulu. Seteah dia mandi saya bimbing Mark mengucapkan dua kalimat syahadat kemudain dia shalata sunnah dua rakaat. Setelah itu, Mark mengungkapakan keinginannya untuk mengunjungi Masjid Haram di Makkah dan shalat di sana sebelum dia meninggalkan Saudi Arabia.


Untuk dapat mewujudkan keinginan beliau, kami pergi ke kantor Dakwah dan Irsyad di kawasan Al-Hamro’ Jeddah untuk mengambil bukti formal keislamannya agar dapat memasuki kota Mekkah dan Masjid Haram. Lalu Mark diberi sertifikat sementara masuk Islam. Karena beberapa anggota grup yang mengikuti kunjungan Mark ke Saudi Arabia sudah harus kembali ke Amerika sore Sabtunya, Al-Hamdullah, Ustadz Muhammad Turkistani bersedia mengantarkan Mark Ke tanah haram Mekkah pagi itu juga.

Terkait kunjungan Mark ke Masjid Haram, Ustazd Muhammad Turkistani menceritakan : setelah Mark medapatkan sertifikat Islam sementara kamipun langsung berangkat menuju Masjid Haram yang mulia. Ketiak dia menyaksikan Masjid Haram, tampak sekali wajahnya sangat cerah dan memancarkan kegembiraan yang luar biasa. Ketika kami masuk ke dalam Masjid Haram dan menyaksikan langsung Ka’bah, kegembiraannya semakin bertambah. Demi Allah saya tidak bisa mengungkapkannya dengan lisan akan pemandangan tersebut. Setelah beliu tawaf mengelilingi Ka’bah yang mulia, kami shalat sunnah dan kemudian keluar dari Masjid Haram. Saya lihat Mark sngat berat untuk berpisah dengan Masjid Haram.

Setelah Mark Mengumumkan keislamannya, dia sempat mengungkapkan kebahagiaanya pada Koran Al-Riyadh sambil berkata : Saya tidak sanggup mengungkapkan perasaan saya saat ini. Akan tetapi, sekarang saya baru dilahirkan kembali dan kehidupan saya baru dimulai…Lalu dia menambahkan : Saya sangat bahagia. Kebahagiaan yang saya rasakan tidak sanggup saya ungkapkan pada Anda saat saya berkunjung ke Masjid Haram dan Ka’bah yang mulia.

Terkait pertanyaan langkah ke depan setelah ia masuk Islam, Mark menjelaskan : saya akan belajar lebih banyak tentag Islam, akan mendalami agama Allah ini (Islam) dan akan kembali lagi ke Saudi Arabia untuk menunaikan ibadah Haji.

Terkait faktor pendoring masuk Islam, Mark menjelaskan : Sebelumnya saya sudah memiliki informasi tentang Islam, tapi sangat sedikit. Ketika saya berkunjung ke Saudi dan menyaksikan langsung kaum Muslimin di Saudi dan saya saksikan mereka menunaikan shalat, saya merasakan sebuah dorongan yang kuat untuk mengenal lebih banyak lagi tentang Islam. Ketika saya membca informasi yang benar tentang Islam, sayapun yakin bahwa Islam adalah agama yang haq (benar).


Pagi Ahad 18 Okteber 2009, Mark meninggalkan Bandara King Abdul Aziz Jeddah menuju Amerika. Sebelum meninggalkan Jeddah, saat mengisi fomulir imigrasi, Mark mencantumkan agamanya adalah ISLAM.

Selamat jalan Mark… Semoga Allah memberkahi Anda dan menjadikan Anda seorang Muslim yang taat dan Da’i yang akan mengajak masyarakat Amerika untuk menikmati kebahagiaan Islam sebagaimana yang Anda rasakan, agar mereka, khusunya pemerintah Amerika tidak takut kepada Islam. Karena hanya Islamlah yang mampu menyelamatakan umat manusia di dunia dan di akhirat kelak…Amin… (fj/eramuslim)

 

sumber : swaramuslim.net

jin_ilustratri0n_kecil.jpg_320_320_0_9223372036854775000_0_1_0
Tanya : Apa hukumnya meminta bantuan kepada jin untuk perlindungan ?

Jawab : Allah ta’ala telah berfirman :

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقاً

“Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki diantara jin, maka jin-jin itu itu menambah dosa bagi mereka” [QS. Al-Jin : 6].

Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

أي كنا نرى أن لنا فضلاً على الإنس لأنهم كانوا يعوذون بنا ، أي إذا نزلوا وادياً أو مكاناً موحشاً من البراري وغيرها كما كانت عادة العرب في جاهليتها يعوذون بعظيم ذلك المكان من الجان أن يصيبهم بشئ يسوءهم ، كما كان أحدهم يدخل بلاد أعدائه في جوار رجل كبير وذمامه وخفارته ، فلما رأت الجن أن الإنس يعوذون بهم من خوفهم منهم زادوهم رهقاً ، أي خوفاً وإرهاباً وذعراً ، حتى يبقوا أشد منهم مخافة وأكثر تعوذاً بهم

“Maksudnya, kami (jin) berpendapat bahwa kami mempunyai keutamaan atas manusia, karena mereka berlindung kepada kami. Yaitu, ketika mereka turun ke lembah atau tempat angker di daratan atau tempat lainnya, seperti kebiasaan orang Arab pada jaman Jahiliyyah, sebagian mereka meminta perlindungan kepada penguasa tempat itu yang berupa jin agar tidak tertimpa sesuatu yang membahayakan mereka. Seperti salah seorang dari mereka memasuki negeri musuhnya di bawah perlindungan, kekuasaan, dan penjagaan orang besar. Ketika jin telah mengetahui bahwa manusia berlindung kepadanya lantaran ketakutan mereka kepada jin, maka jin-jin itu membuatnya semakin takut. Maksudnya : takut, rasa terancam, dan bingung, sehingga mereka terus semakin takut dan semakin berlindung kepada mereka” [selesai].

Itulah yang dilakukan oleh jin kafir yang senantiasa berusaha menjerumuskan manusia kepada kesyirikan. Jika manusia meminta bantuan kepada jin, maka hal itu akan membuat jin semakin sombong. Mereka beranggapan bahwasannya bangsa jin lebih tinggi kedudukannya dibandingkan manusia, sama seperti anggapan iblis kepada Adam di awal penciptaan. Padahal kenyataannya adalah tidak demikian.

Allah telah memerintahkan manusia untuk hanya berlindung kepada-Nya. Tidak kepada selain-Nya. Banyak ayat Al-Qur’an yang memerintahkan kepada kita ber-isti’adzah (meminta perlindungan) hanya kepada Allah semata. Diantaranya adalah :

وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan jika syaithan mengganggumu dengan satu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” [QS. Fushshilat : 36].

قُلْ أَعُوذُ بِرَبّ الْفَلَقِ

Katakanlah : “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai shubuh” [QS. Al-Falaq : 1].

قُلْ أَعُوذُ بِرَبّ النّاسِ

Katakanlah : “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia” [QS. An-Naas : 1].

Tidak ada satu pun maslahat ataupun mudlarat yang terjadi di dunia melainkan atas ijin dan kehendak Allah. Oleh karena itu, sudah semestinyalah kita meminta maslahat dan berlindung dari mudlarat hanya kepada Allah. Adapun makhluk-makhluk lainnya, seperti juga jin, maka ia adalah lemah. Tidaklah ia dapat memberikan sesuatu kecuali atas ijin dan kehendak Allah. Maka tidaklah patut kita meminta sesuatu kepada makhluk yang tidak kuasa memberikannya.

Mulla Ali Al-Qari rahimahullah berkata :

لا يجوز الاستعاذة بالجن . فقد ذم الله الكافرين على ذلك وذكر الآية وقال : قال تعالى ‘6: 128′ ” ويوم يحشرهم جميعا يا معشر الجن قد استكثرتم من الإنس وقال أولياؤهم من الإنس ربنا استمتع بعضنا ببعض وبلغنا أجلنا الذي أجلت لنا قال النار مثواكم خالدين فيها إلا ما شاء الله إن ربك حكيم عليم ” فاستمتاع الإنسى بالجني في قضاء حوائجه وامتثال أوامره وإخباره بشئ من المغيبات ، واستمتاع الجنى بالإنسى تعظيمه إياه ، وإستعاذته به وخضوعه له . انتهى ملخصاً .

“Tidak boleh ber-isti’adzah (meminta perlindungan) kepada jin. Allah telah mencela orang-orang kafir karenanya. Allah ta’ala telah berfirman : { وَيَوْمَ يِحْشُرُهُمْ جَمِيعاً يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُم مِّنَ الإِنسِ وَقَالَ أَوْلِيَآؤُهُم مِّنَ الإِنسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِيَ أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَليمٌ} “Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpun mereka semuanya, (dan Allah berfirman) : “Hai segolongan jin (syetan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan manusia”. Lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia : “Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami”. Allah berfirman : “Neraka itulah tempat kediaman kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-An’aam : 128).

Kesenangan manusia dari jin adalah karena tercapai hajatnya, terlaksana perintah-perintahnya, dan pemberitaan jin untuknya tentang sesuatu yang ghaib. Kesenangan jin dari manusia adalah karena manusia mengagungkannya, berlindung, dan tunduk kepadanya”. Selesai perkataannya dengan cara diringkas.[/i]

Kesimpulan : Haram hukumnya meminta bantuan perlindungan atau yang lainnya kepada jin. Hal itu merupakan kesyirikan dan dapat menjerumuskan kepada kesyirikan yang lebih besar lagi. Allaahu a’lam.

[Jawaban bersumber dari kitab Fathul-Majid fii Syarhi Kitaabit-Tauhid karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullah, Maktabah Taufiqiyyah, halaman 153-154].

 

http://abul-jauzaa.blogspot.com

 

// <!– //

 


 


Ormas Islam: Bantuan Kemanusiaan Yes, Pemurtadan No!

Masyarakat korban gempa di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat buncah. Pasalnya, sejumlah oknum relawan asing yang datang ke daerah tersebut berkedok memberikan bantuan kemanusiaan namun ditemukan membagi-bagikan kitab Injil kepada warga korban gempa sejak Selasa (27/10/2009) kemarin.

Bahkan, jika ada warga korban gempa yang mau merobah akidahnya secara terang-terangan mereka siap membuatkan rumah permanen. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Padang Pariaman saat ini sedang melacak keberadaan oknum relawan asing itu dan sedang mengumpulkan bukti-bukti untuk dilaporkan ke pihak berwajib. �Benar, kami mendapatkan informasi dari warga ada oknum relawan asing yang membagi-bagikan Injil di jalanan, kepada siapa saja mereka bertemu,� ujar Ketua Umum MUI Padang Pariaman, Ustadz Khairuddin ketika dihubungi Sabili via telepon genggamnya, Rabu (28/10/2009).

Dia menyebutkan, masyarakat saat ini resah khususnya mereka yang berada di Kecamatan X Koto Kampung Dalam, Patamuan, V Koto Timur, dan Lubuk Alung. Oknum relawan asing itu membagi-bagikan Injil sementara mereka tahu masyarakat di daerah itu seluruhnya muslim.

�Tindakan oknum relawan asing ini sangat meresahkan masyarakat. Persoalan akidah sangat sensitif di daerah kami,� katanya.

Menurut Ustadz Khairuddin, siang ini tim MUI Padang Pariaman akan turun ke lokasi-lokasi yang disebutkan itu untuk mengecek kebenaran serta mengumpulkan bukti-bukti di lapangan terkait penyebaran Injil kepada warga korban gempa. Jika semua barang bukti itu ditemukan, MUI tidak segan-segan melakukan tindakan tegas dan memprosesnya secara hukum.

�Membantu boleh tapi jangan menyinggung akidah masyarakat kami,� tegasnya.

Ulama Sumatera Barat Buya Bagindo Muhammad Letter sebelumnya juga menerima informasi itu dari beberapa jamaah pengajiaannya di Padang Pariaman. Dia mengimbau kepada para donatur asing yang membantu korban gempa Sumatera Barat untuk benar-benar murni tanpa ada misi lain.

�Kami sangat menyayangkan tindakan oknum donatur asing itu, tapi untunglah akidah masyarakat di Padang Pariaman cukup kuat,� ujarnya.


Ormas Islam: Bantuan Kemanusiaan Yes, Pemurtadan No!

Sementara itu, Ketua MUI Sumbar Bidang Fatwa Buya H. Gusrizal Ghazahar, Lc, ketika dihubungi Sabili via telepon genggamnya mengaku sudah mendapatkan informasi tentang pembagian Injil itu di Padang Paariaman.

�Ya, saya sudah dengar informasinya. Kalau dalam kondisi seperti ini kita tidak heran, banyak donatur asing berkedok misi kemanusiaan tapi punya misi lain,� tegas Buya Gusrizal.

Namun demikian, dia meminta komitmen tegas pada pemerintah daerah setempat melalui aparatnya untuk mengawasi seluruh aktivitas relawan/donatur asing itu. Sebelumnya, MUI Sumbar telah menyatakan secara tegas jika urusan rehabilitasi mental korban gempa MUI siap melaksanakannnya. Bahkan, puluhan dai/muballig MUI telah turun ke daerah-daerah yang parah terkena gempa.

�Saya sudah tegaskan sebaiknya pemerintah menyetop bantuan-bantuan asing itu jika ada misi lain di baliknya. MUI di seluruh daerah di Sumbar sudah turun ke lapangan untuk persoalan rehabilitasi mental ini,� kata Gusrizal yang juga Dosen IAIN Imam Bonjol Padang.

Jika bantuan-bantuan asing itu tidak diberhentikan, kata Gusrizal, nantinya akan menimbulkan masalah fatal di tengah masyarakat Sumbar yang mayoritas beragama Islam. �Cukup masyarakat Sumbar saja dan masyarakat muslim lainnya di Indonesia yang membantu,� katanya.

Dia mengimbau kepada korban gempa di Sumbar, saat ini masyarakat memang sangat membutuhkan bantuan materi, namun harus tetap hati-hati terhadap segala bantuan khususnya dari asing. Untuk itu masyarakat juga perlu komitmen, meski dalam keadaan susah tidak mudah menggadaikan akidah.

Di samping itu, Buya Gusrizal juga menyinggung soal bantuan dari Israel melalui Pengurus Daerah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jakarta untuk korban gempa Sumbar. Dirinya menyayangkan aktivis HMI mau menerima bantuan itu, dan diminta untuk segera mengembalikannya karena selama ini tidak ada hubungan baik antara muslim Indonesia dengan pihak Israel .

�Kejahatan Israel terhadap Palestina tentu tidak dapat kita maafkan, untuk itu jangan memberikan peluang kepada mereka menginjakkan kaki di Indonesia meski berkedok memberikan bantuan sekalipun,� tegasnya. (Muhammad Subhan, Padang/sabili )

 

sumber : swaramuslim.net

**********************************************************************************************************

inilah yang saya tekutkan sejak hari pertama gempa…

ternyata betul2 terjadi……

mereka dengan gencarnya melakukan usaha pemurtadan…..

semoga Allah melindungi kita semua dari syaitan yang berusaha menggeser iman kita…

amin

 

Setelah memeluk Islam, berbagai kemudahan dan juga ujian datang silih berganti

Penikmat televisi di Tanah Air tentunya mengenal sosok perempuan satu ini. Alessandra Shinta Malakiano nama lengkap perempuan tersebut. Namun, publik lebih mengenalnya dengan nama Sandrina Malakiano. Nama yang kerap dipakainya pada saat tampil di layar kaca salah satu stasiun televisi di Indonesia untuk menyampaikan berita dan peristiwa seputar isu politik dan ekonomi nasional maupun mancanegara.

Lahir di Bangkok, Thailand, pada 24 November 1971, Sandrina dibesarkan di tengah keluarga dengan dua kultur yang berbeda. Ayahnya yang berasal dari Armenia, Italia, merupakan pemeluk Katolik Gregorian. Sementara ibunya yang berdarah Solo-Madura beragama Islam, yang kuat memegang budaya kejawen. ”Saya ini sangat beruntung karena dibesarkan dalam keluarga yang sangat berwarna. Karenanya, saya sering menyebut kehidupan dalam keluarga saya itu sebagai united colours of religion,” ujarnya kepada Republika, pekan lalu di Jakarta.

Kombinasi dua budaya yang berbeda dari kedua orang tuanya itu, melahirkan kebebasan memeluk agama apa pun bagi anak-anaknya, termasuk Sandrina. Ayah dan ibunya, kata dia, adalah orang tua yang moderat. Mereka menanamkan kepercayaan kepada Tuhan, tetapi membebaskan anak-anaknya untuk menemukan jalan kebenarannya masing-masing.”Menurut orang tua, yang namanya urusan agama itu sangat pribadi. Jadi, setiap orang pasti akan menemukan jalannya sendiri.”

Kendati sang ayah pemeluk Katolik Gregorian dan sang ibu seorang Muslimah, namun Sandrina serta kakak laki-lakinya justru mendapatkan pendidikan agama Kristen Protestan.

Pendidikan agama Kristen Protestan ini ia peroleh di sekolah. Kondisi tersebut, terangnya, dikarenakan pemeluk Katolik Gregorian di Indonesia sangat langka, sehingga gereja Gregorian hanya ada satu yaitu di Jakarta. Sementara, sejak dari bayi, ia tumbuh dan besar di Bali.

Kebebasan yang diberikan orang tuanya, diakui Sandrina, membuat dirinya bingung dan bimbang. Terlebih lagi ketika duduk di bangku SMP yang mulai ada proses pendewasaan diri dalam keseharian istri dari Eep Saefulloh Fatah ini.”Saya mulai bertanya-tanya, sebetulnya saya ini mengakar ke mana, kenapa Kristen Protestan. Sementara saya merasa bahwa tempat saya bukan di sana,” paparnya.

Sandrina merasa bahwa alam, kultur, dan kehidupan keagamaan yang ada di sekitarnya, sangat sesuai dengan hati nuraninya. Karenanya, sejak saat itu, ia memutuskan untuk mencari tahu dan mempelajari agama yang banyak dianut oleh masyarakat Bali, Hindu.

Ketika duduk di bangku SMA, Sandrina mulai menemukan kecocokan dengan agama Hindu, baik secara emosional maupun dalam kehidupan sehari-hari. Sekitar tahun 1990, saat baru duduk di perguruan tinggi, ia memutuskan untuk meninggalkan ajaran Kristen Protestan dan memeluk Hindu sebagai keyakinan barunya.

Ia menjalani agama barunya ini dengan sepenuh hati. Sandrina mempelajari Hindu dan kemudian mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari, baik secara ritual, aturan, maupun kepercayaan. Bahkan, termasuk membuat album religi Hindu bersama beberapa orang temannya. Album religi Hindu bersifat sosial ini dibuat sekitar 1997.

“Saya menjalaninya dengan penuh totalitas. Karena, saya tidak percaya pada apa pun yang sifatnya setengah-setengah,” tegas ibu dari Keysha Alea Malakiano Safinka (7 tahun) dan Kaskaya Alessa Malakiano Fatah (14 bulan). Namun, lagi-lagi kegelisahan yang sama muncul dalam dirinya. Ia kembali merasa bingung dan bimbang pada keyakinan Hindu yang dipeluknya. Kebingungan serta rasa bimbang tersebut kerap muncul manakala melihat sanak saudara dari keluarga ibunya melakukan shalat di rumahnya, saat mereka berkunjung ke Bali.

Bahkan, terkadang ia turut serta shalat bersama mereka. Shalatnya hanya dilakukan sebatas ikut-ikutan. Namun, justru hal itu yang memberikan perasaan tenang dalam dirinya seusai mendirikan shalat.

Dari situ, paparnya, timbul keinginan untuk mengetahui Islam lebih lanjut. ”Mungkin kesalahan saya pada waktu itu adalah bertanya kepada orang yang tidak tepat. Misalnya, saya ingin tahu mengenai Islam, tapi informasi yang saya dapatkan mengenai Islam itu kurang baik. Kecendrungan mereka mengatakan Islam itu menyulitkan, tidak fleksibel, tidak universal, dan merendahkan kaum perempuan,” ujarnya.

Hijrah ke Jakarta
‘Pada 1998, ketika ia memutuskan hijrah ke Jakarta, Sandrina dihadapkan pada sebuah lingkungan yang berbeda dengan kehidupannya semasa di Pulau Dewata.Sewaktu di Bali, ia tinggal di sebuah lingkungan yang didominasi oleh pemeluk Hindu. Dan ketika di Jakarta, ia justru tinggal di lingkungan yang mayoritas pemeluk Islam.

Di Ibu Kota Indonesia inilah, Sandrina mendapat kesempatan yang lebih luas dalam melihat Islam secara lebih dekat. Ia pun banyak bertanya tentang agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ini kepada orang-orang Islam, termasuk pada ulama. Karena itu, kegiatan kesehariannya lebih banyak mempelajari Islam.

Ia juga sempat bertanya pada Ibu Nur, seorang guru mengaji anak pemilik tempat kosnya, tentang Islam. ”Sulit dijelaskan dengan kata-kata. Semakin hari ketertarikan saya pada Islam pun tumbuh. Keinginan untuk lebih banyak tahu mengenai Islam semakin menjadi, dan kerinduan untuk memeluk Islam pun semakin menggebu,” paparnya.

Dan ketika ia mengungkapkan hal itu pada keluarga terdekatnya serta saudara dan teman-temannya, jelas Sandrina, mereka semua sangat mendukung. Dukungan inipun makin melecut semangat wanita berdarah Italia-Jawa-Madura ini untuk memperdalam Islam dan shalat. Setelah merasa mantap dengan ajaran Islam yang dipelajari selama lebih kurang dua tahun pengembaraannya, maka pada 2000, ia pun membulatkan tekad untuk memeluk agama Islam. Ia bersyahadat di Masjid Al-Azhar, Jakarta.

Rahmat dan hidayah Allah pun senantiasa mengalir padanya. Tak lama setelah memeluk Islam, ia merasa Allah SWT memberikan berbagai kemudahan dalam hidupnya. Salah satunya, ia diterima bekerja di Metro TV. Dari penghasilan yang didapatnya, akhirnya ia mampu tinggal dan kos di tempat yang lebih luas, dibandingkan dengan tempat kosnya terdahulu. Ia juga akhirnya bisa mencicil mobil untuk menunjang aktivitasnya.”Jadi, ke mana-mana tidak lagi naik bajaj, termasuk untuk pergi siaran di televisi. Dari hasil kerja di Metro TV, saya juga masih bisa membantu keuangan ibu di Bali,” terangnya.

Ujian Bertubi-tubi

Allah SWT tidak akan membiarkan hamba-hambanya yang telah diberi hidayah atau kemuliaan itu dengan begitu saja. Dia akan menguji hambanya itu dengan berbagai macam cobaan. Dan cobaan atau ujian itu adalah ukuran bagi kesempurnaan iman seseorang.

”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al-Ankabut [29] : 2-3).

Kondisi ini sangat tepat disematkan pada Sandrina Malakiano. Setelah berbagai kemudahan ia dapatkan, Allah SWT mengujinya dengan berbagai persoalan yang datang silih berganti dalam kehidupannya. Salah satunya, ia gagal mempertahankan rumah tangga yang telah dibinanya selama kurang lebih empat tahun.

Namun di balik peristiwa ini, Allah justru memberinya sebuah hadiah terindah. Salah seorang kenalannya yang sudah ia anggap seperti ayah sendiri, memberangkatkan dia untuk umrah–sebuah keinginan yang sudah lama ia idam-idamkan. ”Saya berangkat umrah tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Saya betul-betul berangkat dalam kondisi yang zero mind, itu terjadi tahun 2005,” ujar Sandrina. Umrah kali pertama ini juga merupakan pertama kalinya ia pergi ke luar negeri.

Sepulang umrah pada 2005, ia mendapat kejutan-kejutan lain dari Allah. Allah memberinya seorang pendamping yang lebih saleh dan bisa menjadi imam serta pembimbing yang baik bagi dirinya dan keluarga. Selain itu, setahun berselang, berkat kemurahan seorang pemilik travel haji, ia kembali pergi ke luar negeri dengan tujuan menunaikan ibadah haji.

Namun, ujian belum berhenti. Sepulang dari menunaikan ibadah haji, ia berkomitmen untuk sepenuhnya menjalankan ajaran Islam. Ia memutuskan mengenakan busana Muslimah dan berjilbab. Namun, keputusannya ini dianggap banyak orang hanya untuk memenuhi keinginan suami. Ia tak ambil pusing dengan anggapan orang. Tekadnya sudah bulat untuk berbusana Muslimah. Dan sang suami pun terkejut ketika diberi tahu mengenai keputusannya ini.

”Suami khawatir bagaimana dengan pekerjaan saya sebagai penyiar berita di Metro TV nantinya setelah saya berjilbab. Dia memang sudah membayangkan pasti akan ada kesulitan di sana,” tuturnya. Apa yang dikhawatirkan suaminya menjadi kenyataan. Manajemen tempatnya bekerja, tidak memperbolehkan dia melaksanakan siaran dengan menggunakan jilbab. Setelah menjalani proses diskusi dan berpikir selama tiga bulan lamanya, ia pun mantap memutuskan untuk mengundurkan diri dari dunia yang telah membesarkannya selama 15 tahun lebih. Pada Mei 2006, keputusan yang sulit pun akhirnya ia ambil. Sandrina resmi mundur dari Metro TV.

Keputusan ini berdampak pada kehidupan sehari-harinya. Ia benar-benar belum siap melepaskan diri dari televisi. Perasaan sedih, sering menderanya. Ia berusaha menghindari televisi. Selama lebih kurang setahun, baru ia bisa kembali menemukan kepercayaan diri sehingga bisa menonton TV. ”Setiap kali nonton televisi rasanya ngenes . Tetapi, alhamdulillah ada suami dan keluarga yang menguatkan saya waktu itu.”

Semua cobaan tersebut, ia maknai sebagai bentuk permintaan dan kasih sayang dari Sang Pencipta agar ia memperluas lahan kesabaran dan keikhlasannya. Termasuk ketika ibunya jatuh sakit pada 2007 dan harus menjalani perawatan di rumah sakit selama 47 hari hingga ajal menjemput. Dan selama 47 hari tersebut, ia terus berada di sisi sang ibu dan mendampinginya melawan penyakit yang menyerang pankreasnya. ”Seandainya saya masih bekerja, mungkin saya tak akan bisa mendampingi ibu yang telah melahirkan saya itu selama lebih dari 47 hari di rumah sakit,” terangnya.

Cobaan berikutnya datang lagi manakala sang ibu wafat dan ia dihadapkan pada masalah tagihan rumah sakit sebesar Rp 680 juta yang harus segera dilunasi. Saat meninggalkan rumah sakit, ia baru membayar sepertiganya.ia sempat meragukan keputusan yang telah diberikan Allah dalam hidupnya.

Beruntung ia segera disadarkan. Saat itu yang bisa ia lakukan hanya pasrah dan berserah diri kepada Allah. Hingga akhirnya, Allah memberikan pertolongan kepadanya melalui tangan-tangan yang tidak pernah ia sangka sebelumnya. Dalam waktu dua hari setelah pemakaman sang ibu, beberapa orang kenalannya dan ibunya mentransfer sejumlah uang dalam nominal yang cukup besar. Jika ditotal keseluruhan uang tersebut cukup untuk melunasi semua tagihan rumah sakit. ”Ini semua karena kasih sayang Allah. Saya menjadi makin lebih sabar dan ikhlas dalam menerima berbagai macam ujian,” paparnya. dia/taq/RioL

Biodata:

Nama Lengkap : Alessandra Shinta Malakiano
Nama Populer : Sandrina Malakiano
Lahir : Bangkok, 24 November 1971
Suami : Eep Saefulloh Fatah
Anak : Keysha Alea Malakiano Safinka (7 tahun) dan Kaskaya Alessa Malakiano Fatah (14 bulan).

 

sumber : swaramuslim.net

kids-ilust1

 

Apa yang tak pernah tenggelam di dunia maya alias internet? Sudah bukan rahasia lagi, seks. Bahkan di situs-situs berita Islam pun, jika ada berita yang menyinggung hal ini, selalu menduduki peringkat atas yang paling banyak diklik oleh para pengguna internet.

Menurut google-trends per awal November 2009, sekarang ini, Indonesia menduduki peringkat keempat, naik dua tingkat dari asalnya peringkat keenam pada Oktober 2009.

Sedangkan peringkat pertama diduduki oleh Viet Nam. Negara ini menggeser posisi Pakistan yang bulan sebelumnya menduduki peringkat pertama pada bulan lalu—dan sebaliknya, Viet Nam berada di posisi kedua.

Di atas Indonesia, ada Mesir, dan di bawahnya ada Maroko, Turki, Malyasia, Polandia, Hungaria, dan Rumania.

Tampaknya penggemar bidang esek-esek di Indonesia tidak mengenal “cuaca dan kondisi” alam sekitar. Di negara-negara lain, grafik pengakses pornografi biasanya akan turun ketika di negaranya terjadi kecelekaan atau bencana alam, atau kejadian-kejadian besar di dunia politik, sosial, dan ekonomi. Namun hal itu tidak terjadi ternyata.

Disinyalir, maraknya warnet-warnet hingga pelosok kampung yang juga turut memicu kenaikan ini. (sa/gtrends)

http://eramuslim.com/berita/nasional/indonesia-naik-2-peringkat-pengklik-terbanyak-pornografi-di-internet.htm

**********************************************************************************************************************

inalillahi…..

apakah begini moral dan otak para remaja Indonesia???

padhal Indonesia adalah penduduk muslim terbanyak…

Ya Rabbi…….

tolonglah bangsa ini

0511-0804-2113-1850_Kids_Getting_Married_clipart_image

 

Segala puji hanya bagi Allah, Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan sahabatnya yang setia sampai hari kiamat, amma ba?du;

Sebenarnya sudah lama saya ingin menuliskan tentang masalah ini agar menjadi jelas dan gamblang, namun alhamdulillah ternyata sudah ada artikel yang cukup bagus, ilmiyyah dan berbobot, sehingga saya cukupkan dengan artikel tersebut karena apa yang saya inginkan sudah terwakili olehnya.

Artikel dibawah ini adalah pendapat yang benar dalam masalah ini menurut Al-Qur?an, As-Sunnah dan Salafush Shaleh. Pada bagian terakhir saya (Abdullah Saleh Hadrami) akan menyertakan bantahan terhadap syubhat yang ada dalam masalah ini.

Menikahi Wanita Hamil

Untuk menghindari aib maksiat hamil di luar nikah, terkadang orang justru sering menutupinya dengan maksiat lagi yang berlipat-lipat dan berkepanjangan. Bila seorang laki-laki menghamili wanita, dia menikahinya dalam keadaan si wanita sedang hamil atau meminjam orang untuk menikahi-nya dengan dalih untuk menutupi aib, nah apakah pernikahan yang mereka lakukan itu sah dan apakah anak yang mereka akui itu anak sah atau dia itu tidak memiliki ayah ? Mari kita simak pembahasannya !!

Status Nikahnya :

Wanita yang hamil karena perbuatan zina tidak boleh dinikahkan, baik dengan laki-laki yang menghamilinya atau pun dengan laki-laki lain kecuali bila memenuhi dua syarat :*1

Pertama; Dia dan si laki-laki taubat dari perbuatan zinanya.*2 Hal ini dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan menikah dengan wanita atau laki-laki yang berzina, Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
Artinya ?Laki-laki yang berzina tidak mengawini, kecuali perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik dan perempuan yang berzina tidak dikawini, melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik dan yang demikian itu, diharamkan atas orang-orang yang mu?min.?3

Syaikh Al-Utsaimin berkata, ?Kita mengambil dari ayat ini satu hukum yaitu haramnya menikahi wanita yang berzina dan haramnya menikahkan laki-laki yang berzina, dengan arti, bahwa seseorang tidak boleh menikahi wanita itu dan si laki-laki itu tidak boleh bagi seseorang (wali) menikahkannya kepada putri-nya.4

Bila seseorang telah mengetahui, bahwa pernikahan ini haram dilakukan namun dia memaksakan dan melanggarnya, maka pernikahannya tidak sah dan bila melakukan hubungan, maka hubungan itu adalah perzinahan.5 Bila terjadi kehamilan, maka si anak tidak dinasabkan kepada laki-laki itu atau dengan kata lain, anak itu tidak memiliki bapak.6 Orang yang menghalalkan pernikahan semacam ini, padahal dia tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkannya, maka dia dihukumi sebagai orang musyrik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
Artinya, ?Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan (sekutu) selain Allah yang mensyari?atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?? 7

Di dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan orang-orang yang membuat syari?at bagi hamba-hambaNya sebagai sekutu, berarti orang yang menghalalkan nikah dengan wanita pezina sebelum taubat adalah orang musyrik.*8

Namun, bila sudah bertaubat, maka halal menikahinya, tentunya bila syarat ke dua berikut terpenuhi.*9

Ke dua : Dia harus beristibra? (menunggu kosongnya rahim) dengan satu kali haidl, bila tidak hamil, dan bila ternyata hamil, maka sampai melahir-kan kandungannya.*10

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda : Artinya, ?Tidak boleh digauli (budak) yang sedang hamil, sampai ia melahir-kan dan (tidak boleh digauli) yang tidak hamil, sampai dia beristibra? dengan satu kali haid.*11

Di dalam hadits di atas, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang menggauli budak dari tawanan perang yang sedang hamil sampai melahirkan dan yang tidak hamil ditunggu satu kali haidl, padahal budak itu sudah menjadi miliknya.

Juga sabdanya Shallallaahu alaihi wa Sallam : Artinya, ?Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dia menuangkan air (maninya) pada semaian orang lain.*12

Mungkin sebagian orang mengatakan, bahwa yang dirahim itu adalah anak yang terbentuk dari air mani si laki-laki yang menzinainya yang hendak menikahinya. Jawabnya adalah apa yang dikatakan oleh Al Imam Muhammad Ibnu Ibrahim Al Asyaikh , ?Tidak boleh menikahinya sampai dia taubat dan selesai dari ?iddahnya dengan melahirkan kandungannya, karena perbedaan dua air (mani), najis dan suci, baik dan buruk dan karena bedanya status menggauli dari sisi halal dan haram.? 13

Ulama-ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan, ?Dan bila dia (laki-laki yang menzinainya setelah dia taubat) ingin menikahinya, maka dia wajib menunggu wanita itu beristibra? dengan satu kali haidl sebelum melangsungkan akad nikah dan bila ternyata dia hamil, maka tidak boleh melangsungkan akad nikah dengannya, kecuali setelah dia melahirkan kandungannya, berdasarkan hadits Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam yang melarang seseorang menuangkan air (maninya) di persemaian orang lain.?*14

Bila seseorang nekad menikahkan putrinya yang telah berzina tanpa beristibra? terlebih dahulu, sedangkan dia tahu bahwa pernikahan itu tidak boleh dan si laki-laki serta si wanita juga mengetahui bahwa itu adalah haram, maka pernikahannya itu tidak sah. Bila keduanya melakukan hubungan badan maka itu adalah zina. Dia harus taubat dan pernikahannya harus diulangi, bila telah selesai istibra? dengan satu kali haidh dari hubungan badan yang terakhir atau setelah melahirkan.

Status Anak Hasil Hubungan di Luar Nikah.

Semua madzhab yang empat (Madzhab Hanafi, Malikiy, Syafi?i dan Hambali) telah sepakat bahwa anak hasil zina itu tidak memiliki nasab dari pihak laki-laki, dalam arti dia itu tidak memiliki bapak, meskipun si laki-laki yang menzinahinya dan yang menaburkan benih itu mengaku bahwa dia itu anaknya. Pengakuan ini tidak dianggap, karena anak tersebut hasil hubungan di luar nikah. Di dalam hal ini, sama saja baik si wanita yang dizinai itu bersuami atau pun tidak bersuami.*15 Jadi anak itu tidak berbapak.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam : Artinya ?Anak itu bagi (pemilik) firasy dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan).? 16

Firasy adalah tempat tidur dan di sini maksudnya adalah si istri yang pernah digauli suaminya atau budak wanita yang telah digauli tuannya, keduanya dinamakan firasy karena si suami atau si tuan menggaulinya atau tidur bersamanya. Sedangkan makna hadits tersebut yakni anak itu dinasabkan kepada pemilik firasy. Namun karena si pezina itu bukan suami maka anaknya tidak dinasabkan kepadanya dan dia hanya mendapatkan kekecewaan dan penyesalan saja.17

Dikatakan di dalam kitab Al-Mabsuth, ?Seorang laki-laki mengaku berzina dengan seorang wanita merdeka dan (dia mengakui) bahwa anak ini anak dari hasil zina dan si wanita membenarkannya, maka nasab (si anak itu) tidak terkait dengannya, berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam : Artinya ?Anak itu bagi pemilik firasy, dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan)? 18

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah menjadikan kerugian dan penyesalan bagi si laki-laki pezina, yaitu maksudnya tidak ada hak nasab bagi si laki-laki pezina, sedangkan penafian (peniadaan) nasab itu adalah murni hak Allah Subhanahu wa Ta’ala.19
Ibnu Abdil Barr berkata, Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, ?Dan bagi laki-laki pezina adalah batu (kerugian dan penyesalan)? Maka beliau menafikan (meniadakan) adanya nasab anak zina di dalam Islam. 20

Oleh karena itu anak hasil zina itu tidak dinasabkan kepada laki-laki yang berzina maka :

Anak itu tidak berbapak.
Anak itu tidak saling mewarisi dengan laki-laki itu.
Bila anak itu perempuan dan di kala dewasa ingin menikah, maka walinya adalah wali hakim, karena dia itu tidak memiliki wali.
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, Artinya ?Maka sulthan (pihak yang berwenang) adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali?21

Satu masalah lagi yaitu bila si wanita yang dizinahi itu dinikahi sebelum beristibra? dengan satu kali haidh, lalu digauli dan hamil terus melahirkan anak, atau dinikahi sewaktu hamil, kemudian setelah anak hasil perzinahan itu lahir, wanita itu hamil lagi dari pernikahan yang telah dijelaskan di muka bahwa pernikahan ini adalah haram atau tidak sah, maka bagaimana status anak yang baru terlahir itu ?

Bila si orang itu meyakini bahwa pernikahannya itu sah, baik karena taqlid kepada orang yang membolehkannya atau dia tidak mengetahui bahwa pernikahannya itu tidak sah, maka status anak yang terlahir akibat pernikahan itu adalah anaknya dan dinasabkan kepadanya, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Ibnu Qudamah tentang pernikahan wanita di masa ?iddahnya di saat mereka tidak mengetahui bahwa pernikahan itu tidak sah atau karena mereka tidak mengetahui bahwa wanita itu sedang dalam masa ?iddahnya, maka anak yang terlahir itu tetap dinisbatkan kepadanya padahal pernikahan di masa ?iddah itu batal dengan ijma para ulama, berarti penetapan nasab hasil pernikahan di atas adalah lebih berhak.22

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan hal serupa, beliau berkata, ?Barangsiapa menggauli wanita dengan keadaan yang dia yakini pernikahan (yang sah), maka nasab (anak) diikutkan kepadanya, dan dengannya berkaitanlah masalah mushaharah (kekerabatan) dengan kesepakatan ulama sesuai yang saya ketahui, meskipun pada hakikatnya pernikahan itu batil di hadapan Allah dan RasulNya, dan begitu juga setiap hubungan badan yang dia yakini tidak haram padahal sebenarnya haram, (maka nasabnya tetap diikutkan kepadanya).23

Semoga orang yang keliru menyadari kekeliruannya dan kembali taubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesungguhnya Dia Maha luas ampunannya dan Maha berat siksanya. (Abu Sulaiman).

Endnote :
(1)Minhajul Muslim.
(2)Taisiril Fiqhi Lijami’il Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah, Ahmad Muwafii 2/584, Fatawa Islamiyyah 3/247, Al Fatawa Al Jami’ah Lil Mar’ah Al Muslimah 2/5584.
(3)An Nur : 3.
(4)Fatawa Islamiyyah 3/246.
(5)Ibid.
(6)Ibid 33/245.
(7)Asy Syruraa : 21.
(8)Syiakh Al Utsaimin di dalam Fatawa Islamiyyah 3/246.
(9)Ibid 3/247.
(10)Taisiril Fiqhi Lijami’il Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah Li Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah, Ahmad Muwafii 2/583, Majmu Al Fatawa 32/110.
(11)Lihat Mukhtashar Ma’alimis Sunan 3/74, Kitab Nikah, Bab : Menggauli Tawanan (yang dijadikan budak), Al Mundziriy berkata : Di Dalam isnadnya ada Syuraik Al Qadliy, dan Al Arnauth menukil dari Al Hafidz Ibnu Hajar dalam At Talkhish : Bahwa isnadnya hasan, dan dishahihkan oleh Al Hakim sesuai syarat Muslim. Dan hadits ini banyak jalurnya sehingga dengan semua jalan-jalannya menjadi kuat dan shahih.( Lihat Taisir Fiqhi catatan kakinya 2/851.)
(12)Abu Dawud, lihat, Artinya: ‘alimus Sunan 3/75-76.
(13)Fatawa Wa Rasail Asy Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim 10/128.
(14)Majallah Al Buhuts Al Islamiyyah 9/72.
(15)Al Mabsuth 17/154, Asy Syarhul Kabir 3/412, Al Kharsyi 6/101, Al Qawanin hal : 338, dan Ar Raudlah 6/44. dikutip dari Taisiril Fiqh 2/828.
(16)Al-Bukhari dan Muslim.
(17)Taud-lihul Ahkam 5/103.
(18)Al Bukhari dan Muslim.
(19)Al Mabsuth 17/154.
(20)At Tamhid 6/183 dari At Taisir.
(21)Hadits hasan Riwayat Asy Syafi’iy, Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah.
(22)Al-Mughniy 6/455.
(23)Dinukil dari nukilan Al Bassam dalam Taudlihul Ahkam 5/104.

http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&id=153

*******************************************************************************************************8

tapi sekarang sangat miris…

para perempuan yang hamil di luar nikah…..

mereka menikah pada saat sedang hamil,HANYA KARENA AIB DAN MALU…!!!!!

MAKA DARI ITU,JAGA DIRI DARI ZINA,LINDUNGI KELUARGA,DIRI SENDIRI DAN AGAMAMU…!!!

TAKUTLAH PADA ALLAH ATAS APA YANG ENGKAU LAKUKAN….!!!!!

INGATLAH MAUT..!!!,INGATLAH SURGA..!!,INGATLAH NERAKA…!!!

kebohongan seorang ibu

ibu_nganter_ke_sekolah2

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya.

Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar”

KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan.

Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan”

KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup.

Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek”

KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam.

Ketika bunyi lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!”

KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan.

Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta”

KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya punya duit”

KEBOHONGA N IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku tidak terbiasa”

KEBOHONGA N IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan.

Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, aku tidak kesakitan”

KEBOHONGA N IBU YANG KEDELAPAN

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu ! ” Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah

Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.

Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.

Dan Semoga dapat menjadikan nasehat dan bermanfaat untuk kita semua. Amin

*dapet dari temen by:Lisna sari

al-qaradhawi dan film Islamidakwatuna.com – Doha, Film internasional tentang sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW sedang dirilis oleh perusahaan media di Qatar. Rencana pembuatan film ini terkait dengan upaya baru untuk menghapus stereotip yang beredar luas tentang Islam di Barat.

“Film ini akan menyoroti kehidupan Nabi sejak sebelum lahir sampai wafat beliau,” ungkap Ahmad Abdullah Al-Mustafa, ketua Alnoor Holdings, Al-Jazeera TV, seperti dikutip Islamonline, Ahad (1/11).

Alnoor Holdings didirikan tahun ini untuk memanfaatkan peluang ekonomi dalam industri hiburan, berfokus pada produksi film internasional, produksi arab, dan animasi.

Pembuatan film yang akan menghabiskan biaya sekitar $150 juta atau sekitar Rp1,5 triliun ini rencananya akan dimulai pada tahun 2011. “Film itu diperkirakan akan memakan waktu antara 25 sampai 30 bulan,” ujar Abdullah.

Perusahaan tersebut telah mengeluarkan dana film internasional sebesar $200 juta untuk berinvestasi dalam proyek film di tengah pembiayaan ketat karena krisis keuangan.

Menurut Abdullah, pihak Alnoor masih melakukan pembahasan dengan pihak studio, agen pencari bakat dan distributor di AS dan Inggris, untuk memilih pemain film.

“Film ini akan dibintangi oleh seorang Muslim yang bisa berbahasa Inggris,” ungkap Abdullah. Namun, tambah dia, sesuai dengan aturan dalam Islam, wajah Nabi Muhammad tidak akan ditampilkan.

Film yang bertujuan untuk menjembatani Muslim dan non-Muslim ini akan diproduseri oleh Barrie M. Osborne, seorang produser eksekutif Amerika yang tekenal sebagai pemenang Oscar lewat filmnya “Lord of the Rings: The Return of the King”, di mana ia menerima Academy Award untuk Best Picture.

Pemimpin persatuan ulama dunia, Syekh Yusuf Al-Qaradhawi, juga telah bersedia untuk mengawasi konten film tersebut. “Kami telah sepakat dengan Syekh Qaradhawi untuk membentuk sebuah komite yang bertugas mengawasi script, pemotretan, dan produksi film,” kata Abdullah.

Syekh Qaradhawi, bahkan memuji rencana pembuatan film Nabi Muhammad itu. “Film ini bertujuan untuk melayani Islam,” kata Qaradhawi. iol/taq/RoL

 

Oleh: Tim dakwatuna.com

 

**********************************************************************************************************************

hmmmmmmm……..

sepertinya film ini patut di ancungi jempol…..

semoga film ini dapat menyulut semangat dakwah bagi para kaum muslimin…

amin

 

Rata PenuhSalah satu stasiun radio resmi milik Israel memberitakan upaya dari PM. Benyamin Netanyahu yang meminta kementrian Militer, Transportasi dan Keamanan dalam Negeri untuk mewujudkan agenda pembangunan tembok pembatas di perbatasan Mesir. Alasan pembangunan itu adalah untuk menutup masuknya orang asing secara ilegal melalui perbatasan. Dalam siarannya kemudian diberitakan, langkah-langkah awal yang akan ditempuh untuk mewujudkan proyek rasis itu. Langkah pertama adalah dengan ujicoba pembangunan di beberapa lokasi khusus di perbatasan dengan jarak tembok yang pendek, yang pada tahun berikutnya akan disempurnakan hingga membentengi seluruh perbatasan.

Sumber dari radio Zionis ini kemudian memberitakan, langkah yang diambil Netanyahu didapat dari pertemuan khusus terkait pembicaraan solusi strategis untuk menutup total masuknya orang asing secara ilegal. Dalam pertemuan itu juga tengah dibicarakan, kesepakatan memberikan sanksi berat bagi warganya yang mempekerjakan dan menjamin keberadaan orang asing non legal.

Sementara itu di hari yang sama, Rabu (28/10) sebanyak 5 orang warga Palestina terluka ketika berupaya menghalangi Zionis dengan buldosernya menyapu rumah-rumah penduduk di wilayah Hebron, Selatan Tepi Barat.

Sumber dari Palestina kemudian menyebutkan, alat-alat berat militer Israel hari itu memaksa masuk ke wilayah Hebron dan mulai melakukan penghancuran dan merobohkan rumah-rumah warga Palestina. Diwaktu yang sama terjadi bentrokan yang menyebabkan terlukanya 5 orang warga, empat dari mereka adalah perempuan.

Masih dalam pemberitaan pendudukan Yahudi. Dari wilayah Selatan Hebron, dilaporkan dua kepala keluarga dipaksa hengkang dan mengosongkan rumah mereka, sebelum kemudian rumah tersebut dirobohkan dan rata dengan tanah. [adm/eramuslim]

shalat-2

 

http://belajaraffiliasi.com/ternyata-sholat-juga-punya-injury-time/

Setelah kemarin posting tentang hal yang bisa membuat otak error ,makanya kali ini saya akan netralisir dengan sebuah artikel yang dikirim via email oleh teman ,nampaknya dari sebuah blog.

Menurutku sebuah realita yang mungkin kita menjadi salah satu pemeran di dalamnya. Tulisannya agak panjang,namun saya yakin anda tak merasakan lama membacanya karena  bahasanya enak dan kisahnya lucu dan menggelikan

Silahkan dibaca ya, dan semoga yang menulis mendapat pahala dan saya yang mencopas mendapat berkah Yiiihaaaa!

SHOLAT DI INJURY TIME

Kalo denger terminology di atas, pastilah otak kita langsung mengacuke pertandingan sepakbola. Soalnya istilah injury time sangat sering dipake dalam olah olahraga itu. Gak usah heranlah kalo istilah inijadi sangat populer. Hampir setiap hari ada pertandingan bola diTelevisi. Baik yang langsung, recorded atau hanya highlight berupaanalisa pakar bola terhadap sebuah Liga tertentu.

Sehingga istilahinjury time sangat sering disebut dan dijejalkan pada kita secaraterus menerus, terutama orang-orang yang gila bola.Injury time dalam sepakbola mempunyai makna detik-detik akhir daripertandingan. Entah kenapa sangat sering kejadian, sebuah goal tercetak justru di detik-detik akhir tersebut. Dan yang menyakitkan,goal tersebut terjadi di menit 92, menit 93 bahkan di menit 96.

Padahal pertandingan sepakbola resminya kan cuma 90 menit. Kelebihan waktu itu diberikan oleh wasit karena adanya pelanggaran atau kejadian-kejadian yang memaksa pertandingan berhenti sejenak.

Di kantor saya, istilah injury time juga sangat terkenal. Tapi istilah ini ga ada hubungannya dengan sepakbola. Istilah injury time di kantor justru berhubungan erat dengan jadwal sholat. Memang istilah ini diadopsi dari istilah sepakbola sih. Karena istilah injury time di kantor saya ditujukan buat temen-temen yang selalu mendirikan sholat di saat-saat waktu sholat hampir berakhir hehehehe?

Misalnya, ada beberapa temen yang selalu sholat lohor pas udah deket banget sama sholat ashar. Jadi misalnya sholat Ashar jam 3.30, maka mereka sholat lohor jam 3.25. Pokoknya sengaja sampe mepet banget.

Kalo ditanya kenapa sholat kok ampe mepet-mepet gitu waktunya?Jawabannya macem-macem.Ada yang bilang ’sibuklah,’ ada yang nyaut ‘keasyikan kerja tau-tau udah deket Ashar.’ Ada juga yang jawabnya asal njeplak, ‘Biar efisien! Jadi sholat lohor sama ashar bisa kita lakukan hanya dengan satu kali wudhu.’ Hahahahahaha sinting!

Tapi yang paling spektakuler adalah yang  jawabannya kayak gini, “Kalo di sepakbola ada injury time masa waktu sholat ga boleh?” Ancur!!!!!

Kebiasaan menunda sholat itu seringkali melahirkan kejadian-kejadian kocak. Misalnya ada seorang temen, namanya Sarip. Dia yang paling seneng beraksi di saat-saat injury time. Suatu sore di hari Jumat,dia lagi brainstorming sama teamnya. Jam udah menunjukkan Pukul 3 lewat.

Tiba-tiba salah satu teamnya ngomong, “Rip, lu ga sholat lohor? Udah jam 3.20 loh.” Sambil menunjukkan jam tangannya.

Si Sarip kaget terus langsung ngabur ke musholla. Ambil wudhu secepat kilat langsung sholat. Saking takut keburu Ashar, dia sholatnya cepet banget. Ga tau ada surat-surat yang dikorbankan atau tidak, yang jelas dia bisa menyelesaikan sholatnya hanya dalam waktu kurang dari 1 menit. Wah hebat banget! Bisa masuk museum rekor Muri tuh.

Selesai sholat, dengan kepala masih basah oleh air wudhu dan sambil mengenakan kembali jam tangannya dia balik lagi ke teamnya. Dengan senyum-senyum puas karena masih sempet lohor dia nanya ke yang lain,”Lu semua ga sholat? Udah injury time loh?”

Mendadak semua orang pecah ketawanya. Ada yang ngakak sambil megang perut saking gelinya, ada yang ketawa sambil mengeluarkan suara jejeritan pokoknya heboh bangetlah. Si Sarip bingung dong? Apanya yang lucu? Bukannya udah biasa semua orang sholat di saat injury time?

Setelah suasana agak tenang, salah seorang staff, namanya Agus ngomong, “Rip. Ngapain lu sholat lohor? Sekarang kan hari jumat? Pan tadi lu udah sholat jumat bareng gue?”

Huahahahaha?Ternyata saking kebiasaan sholat di injury time, Si Sarip lupa kalo dia udah sholat jumat. Padahal kan kita ga perlu lagi sholat lohor kalo udah sholat jumat. Beginilah jadinya kalo orang suka sholat di injury time

Di kantor ada beberapa orang yang sering ga sholat. Biasanya temen-temennya suka neror mereka, khususnya pas sholat jumat. Ada-ada aja cara meneror mereka. Yang paling sering kena terror di kantor adalah Edo.

“Edo, lu kan abis menang tender, masa sih lu ga mau sujud syukur sekali aja sekalian sholat jumat?” kata salah seorang teroris.

“Gue ada janji sama temen jam 1, takutnya ga sempet. Lain kali deh gue usahain.” Sahut Edo berusaha berkelit. “Jadi lu lebih memilih temen daripada Allah? Itu udah sirik namanya.

Lu udah menempatkan temen lebih penting daripada Tuhan.Astaghfirulah?” kata Si Peneror lalu dia bergaya kayak orang lagiberdoa, “Ya Allah hindarilah Edo dari siksa api neraka. Amin!” Kata si peneror sambil mengusap kedua tangannya ke wajah.

Kalo udah digituin biasanya Si Edo langsung ga enak. Akhirnya dia mau juga ikutan sholat jumat. Tapi, namanya juga langka ke mesjid, adaaja kejadian-kejadian lucu yang ga terpikirkan oleh yang biasa sholat.

Misalnya ketika banyak orang mengajak bersalaman (Umumnya sehabis sholat orang suka ngajak kita salaman kan?), Si Edo langsung keheranan. Dia kira orang yang ngajak salaman itu ngajak kenalan.

Makanya sebagaimana layaknya orang kenalan, Edo menyambut tangan orang yang ngajak salaman sambil menyebut namanya. ‘Edo’. Salaman lagi sama yang lain, dia ngomong lagi ‘Edo’ Salaman lagi, ngomong lagi ‘Saya Edo.’

Pas pulang dari mesjid, di perjalanan menuju kantor, dia ngomong gini, “Wah gue nyesel banget ga bawa kartu nama. Tadi di Mesjid banyak banget yang ngajak kenalan.” Huahahahahahahahaha?..

Ada lagi peristiwa yang juga kocak. Saat sholat jumat rakaat pertama,tiba-tiba handphone si Edo bunyi. Suara handphonenya kenceng banget dan berasal dari Nada sambung pribadiku. Lagunya lagu dangdut berjudul ‘Kucing garong.’

Semua orang pastinya kesel dan geli mendengar suara HP itu. Si Edo juga panik, sehingga entah nyadar atau tidak, dia mengambil Hpnya dari kantong celana. Dengan suara berbisik dia menjawab panggilan telpon, “Ntar gue telpon lagi ya, gue lagi sholat.” Klik. HP langsung dimatiin. Dan dia melanjutkan sholatnya tanpa memulai lagi dari awal.

Hahahahahahaha?.

Pernah juga Si Edo sholat jumat bareng sama saya. Pas lagi khotbah,dia berbisik, “Bud gue mau nanya. Lu kan biasanya orangnya byabyakan,cerewet dan heboh. Kenapa sih kalo di dalem mesjid kok lu sok wibawa?”

Saya nyaut bisik-bisik juga, “Sok wibawa? Kok lu bisa punya pikiran gitu?”

“Buktinya dari tadi lu ga ngomong sepatah kata pun. Lu ga cerita atau bikin joke, gue perhatiin lu dieem aja dari tadi.”

Ampir saya ketawa ngakak. Setelah mengerahkan energi untuk menahan tawa, saya nyaut lagi ke dia, “Emang aturannya gitu, kalo khotib lagi khotbah kita ga bole ngomong.”

Edo langsung sadar, “Oh gitu ya? Wah maap deh gue ga tau. Kalo gitu kita smsan aja yuk? Gimana? Kan ga ngeluarin suara?”

Ga semua orang kayak Edo. Ada beberapa orang yang sama sekali ga terpengaruh sama ajakan atau teror temennya. Setiap kali ada yang ngajak sholat jumat, ada yang nyautnya gini, “Sholat Jumat? Ga ah.

Udah pernah.” Atau “Udah khatam gue.” Ada lagi yang ngomong “Dari kecil gue udah sholat jumat, sampe sekarang ga ada inovasi, gerakannya gitu-gitu aja dari dulu.” Hahahahaha?pokoknya macem-macem jawabannya.

Bahkan seorang anak magang nyautnya lebih gila lagi. Setiap kali

diajak sholat, sahutannya bener-bener unexpected. Dia bilang gini,

“Sholat? Sholat itu mah nomor dua!”

Temen-temennya kaget dong sama jawabannya. Kok bisa-bisanya dia punya pemahaman seperti itu. Tapi mereka nanya juga “Kok sholat nomor dua?

Yang nomor satu apa?”

Si Magang nyaut lagi, “Yang nomor satu, mengucapkan dua kalimat shahadat. Nomor dua, sholat 5 waktu. Nomor 3 berpuasa di Bulan Ramadhan. Nomor 4 berzakat. Nomor lima, pergi haji jika mampu.”

Hehehehehe dia malah bacain rukun islam loh, ada-ada aja?.

Asep, seorang copywriter sering berkomentar terhadap orang yang susah diajak sholat. Komentarnya menarik, “Gue kagum sama Si Uli. Imannya kuat banget! Diajak sholat sama temennya nolak. Dihimbau sholat sama atasannya, ogah. Dipaksa sholat sama istrinya malah ngamuk. Dia susah dipengaruhi? Kuat banget imannya?”

Kembali ke masalah injury time. Pernah ada peristiwa yang sangat menghebohkan dan sulit dilupakan oleh siapa saja yang mengalaminya. Jadi ceritanya begini. Seperti biasa, jam 5.58, Sarip mau sholat Ashar. Sholat Ashar loh ya, bukan sholat Magrib. Baru aja wudhu,tiba-tiba ada 6 orang yang datang ke mushola.

Dan sesuai perkiraan,mereka mau sholat ashar semua. Penyakit injury time memang udah susah disembuhkan kalo udah stadium 8.

Nah ceritanya mereka pun mulai sholat. Dimulai dengan qomat atau adzan kecil dulu oleh salah seorang makmum. Sarip yang menjadi imamnya. Mungkin karena sholat berjemaah, Sarip ga enak kalo harus ngebut sholatnya. Dia sholat dengan kecepatan normal.

Suasana sholat terlihat cukup khusuk. Belum selesai mereka menyelesaikan sholat Asharnya, tiba-tiba suara adzan Magrib bergema menggetarkan selaput gendang telinga semua orang. Semua yang sholat terlihat gelisah. Kayaknya mereka bingung apakah sholat Asharnya harus diteruskan atau tidak. Akan tetapi sang Imam, Sarip, terus saja melanjutkan sholat.

Kebingungan makin menjadi ketika Sarip tiba-tiba duduk di raka’at ketiga dan melakukan tahiyat akhir. Sholat Ashar kan 4 raka’at, seharusnya tahiyat akhir harus dilakukan di raka’at keempat. Tapi namanya juga makmum, mereka ngikutin aja apa yang dilakukan si Imam.

Setelah mengucapkan dua kali salam kiri dan kanan, semua makmum langsung protes, “Rip, baru 3 rakaat nih. Sholat Ashar kan 4 rakaat?”Yang lainnya juga bilang, “Iya Rip lu salah itung. Baru 3 raka’at.”Yang lain lagi punya ide, “Yuk kita tambahin lagi 1 rakaat. Biar pas jadi empat.”

Dan apa jawaban Sarip? Dengan tenang dan dengan mimik seakan seorang pakar agama, dia menjawab, “Sebetulnya tadinya emang kita mau sholat Ashar, tapi di tengah perjalanan tiba-tiba waktu magrib udah masuk kan?”

“Terus gimana maksud lu?” Tanya yang lain. “Nah, begitu gue denger adzan magrib, gue memutuskan untuk ngeganti sholat kita ini; dari Ashar jadi Magrib. Makanya pas rakaat ke tiga tadi, gue langsung tahiyat akhir. Sholat magrib cuma 3 rakaat kan?”

Hahahahahaha ancur banget ya anak-anak kantor saya (Termasuk saya juga sih hehehehehe) . Karena itulah secara berkala, presdir kantor kami suka manggil ustadz ke kantor. Dalam acara siraman rohani itu semua kelakuan dan pertanyaan yang ada langsung jadi topik bahasan.

Semua ditanyakan pada ustadz tersebut. Dari smsan di mesjid, HP berdering pas lagi sholat dan tentu saja penyakit yang paling akut di dalam diri kita semua ; Sholat di injury time.

Tulisan Sebelumnya »